AMP News :
Featured
Articles
Powered by Blogger.

Breaking News

Opini

Promo
Tahunan
×

Tak Terima Ditegur, Delapan Oknum Polres Lhokseumawe Serang Kantor Satpol PP-WH

AMP - Polisi berhasil meringkus pelaku penyerangan kantor Satpol PP dan WH Lhokseumawe, Aceh. Pelakunya ternyata oknum Polres Lhokseumawe.

"Setelah kita menerima laporan dari Satpol PP-WH, tim Reskrim melakukan penyelidikan, termasuk para saksi mata," kata Kabag Ops Polres Lhokseumawe Kompol Ahzan saat konferensi pers di Mapolres setempat, Kamis (22/6/2017).

Setelah mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi, personel mengembangkan dan berhasil mengungkap siapa pelakunya. Ternyata mereka adalah oknum aparat kepolisian setempat.

"Mereka ada delapan orang," tambah Ahzan didampingi Kasat Reskrim AKP Budi Nasuha Waruwu.

Menurut pengakuan pelaku, kejadian tersebut dipicu oleh kesalahpahaman. Waktu itu, oknum polisi sedang duduk bersama teman wanitanya dan ditegur oleh Polisi Syariat.

Dari situlah awal timbul permasalahan yang membuat oknum polisi kesal hingga melempar kantor Satpol PP-WH dengan botol kaca.

"Masalah ini sudah selesai. Polres Lhokseumawe dan Satpol PP-WH sudah melakukan pertemuan dan disepakati prosesnya tidak diperpanjang. Oknum polisi sendiri tetap kita hukum. Mereka terkena sanksi disiplin dan akan diproses," sebut Ahzan.

Sementara itu, Kepala Satpol PP-WH Lhokseumawe M Irsyadi mengatakan pihaknya sudah melakukan pertemuan dengan pihak Polres Lhokseumawe.

"Kita sudah duduk bersama. Kita tidak memperpanjang lagi masalah tersebut. Apalagi pimpinan polisi setempat akan memberikan sanksi tegas terhadap mereka," sebut Irsyadi.

Diberitakan sebelumnya, kantor Satpol PP-WH Kota Lhokseumawe dilempari dengan botol sirop oleh sejumlah pria bersebo.

"Ada delapan sepeda motor. Mereka berboncengan. Pengendara pakai helm, sedangkan yang di belakang pakai sebo," kata Zikrillah, petugas piket di kantor setempat, Kamis (22/6/2017).

Setelah melakukan aksinya, kawanan pria itu langsung kabur ke arah kota sehingga tak seorang pun dari mereka dapat dikenali. | detik.com

Gara-gara Bentrok Dengan Warga Oknum Polisi Digantung Rame-rame di Halaman Tempat Ibadah

Ilustrasi
AMP - Pihak berwenang di Kashmir yang dikelola India mengatakan seorang polisi telah digantung di luar masjid utama di Srinagar pekan ini.

Polisi nahas itu adalah Muhammad Ayub. Ia digiring dengan pakaian polos di luar Masjid Jamia Masjid selama sholat Jumat siang tadi.

Dikabarkan BBC bahwa warga setempat menuduhnya melepaskan senapannya ke kerumunan orang setelah mengalami perkelahian dengan beberapa pemuda.

Menindaklanjuti hal itu, polisi setempat mengamankan dua orang terkait insiden tersebut.

Kepala polisi Kashmir Sheshpal Ved mengatakan tersangka lain akan segera ditangkap.

"Orang-orang yang terlibat dalam tindakan sombong ini akan menghadapi hukum," jelasnya.

Saksi mata menjelaskan kejadian tersebut.
"Petugas polisi mengalami perkelahian dengan sekelompok anak laki-laki dan dia melepaskan pistol, melukai dua anak laki-laki. Orang banyak menerkamnya dan menggantungnya," jelas saksi mata.

Kepala Menteri setempat Mehbooba Mufti mengatakan bahwa polisi telah melakukan pengamanan maksimal di lokasi.

Pasukan polisi Kashmir yang berkapasitas 130.000 telah mengalami ketegangan setelah militan meningkatkan serangan terhadap orang-orang dan petugasnya.

Telah terjadi pemberontakan bersenjata di wilayah mayoritas Muslim melawan pemerintahan India sejak 1989.

Wilayah yang disengketakan diklaim oleh India dan Pakistan secara keseluruhan. India menyalahkan Pakistan karena memicu kerusuhan tersebut, sebuah klaim ditolak oleh Islamabad.

sumber: rmol

Jelang Lebaran, Doli Warga Aceh Kembali Ditangkap Di Belawan, 20 Kg Ganja Diamankan

Ilustrasi
AMP - Unit Satuan Reserse Narkoba Polres Labuhanbatu mengamankan JP alias Doli (40) warga Dusun Kuala Meurisi, Desa Keutapang, Kecamatan Kreung Sabee, Kabupaten Aceh Jaya sekaitan kepemilikan 20 kilogram daun ganja kering, Senin (19/6/2017) lalu sekira pukul 07.30.

“Dia diamankan bersama rekannya di jalan WR Supratman, Rantauprapat,” demikian dikatakan Kapolres Labuhanbatu, AKBP Frido Situmorang didampingi Kasat Narkoba, AKP Jamakita Purba saat menggelar paparan, Jumat (23/6/2017).

Diterangkan, Doli saat diamankan disebuah gudang tersebut, ketika sedang bersama rekannya Us (41) warga Jalan Mujahir No.94 B Belawan, Kelurahan Belawan Bahagia, Medan Belawan.

Penangkapan kedua tersangka dan barang bukti itu, berawal dari tertangkapnya HAH alias Ongot (35) warga Jalan WR Supratman, Kelurahan Padang Matinggi, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu.

“Berdasarkan informasi awal, kita amankan HAH memiliki daun ganja kering seberat 5 kilogram yang disimpannya di dalam kotak bekas dispenser. Lalu, setelah dikembangkan, kembali kita amankan Doli dan Us,” ujar Kapolres Labuhanbatu.

Saat ini, lanjut Kasat Narkoba, AKP Jamakita Purba, ketiga tersangka beserta barangbukti tengah diamankan guna penindakan selanjutnya.

“Kita tetap komit untuk memerangi narkoba,” paparnya. (Goaceh)

Bukti Baru Terungkap, Suami Injak Leher Guru Honorer Pakai Sepatu Kerja

AMP - Polisi menemukan bukti baru dalam kasus pembunuhan Masdiana (28), guru honorer, warga Alue Geutah, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya yang diduga melibatkan suami dan adik sepupu suaminya. Bukti baru itu berupa sepasang sepatu bot (boot) yang digunakan Junaidi (34), suami korban, untuk menginjak leher istrinya hingga meregang nyawa, Kamis (15/6) pagi.

Kapolres Nagan Raya, AKBP Mirwazi MH, kepada Serambi di Suka Makmue, Kamis (22/6) siang mengatakan, barang bukti baru yang diamankan polisi itu akan melengkapi sejumlah bukti yang sebelumnya telah diamankan terkait kasus pembunuhan ini.

Menurut Kapolres, tersangka Junaidi sudah mengaku bahwa sepatu bot itu sehari-hari dia gunakan di perkebunan kelapa sawit PT Socfindo, tempat ia bekerja. Dengan sepatu itulah leher dan kepala sang istri dia injak-injak sampai mulutnya mengeluarkan darah dan korban meninggal seketika.

“Pengakuan Junaidi, sepatu bot itulah yang ia gunakan untuk menginjak istrinya saat ia bunuh bersama Muhammad Daud,” kata Mirwazi.

Sepatu bot (boot) adalah sepatu yang membungkus kaki pemakainya hingga di bawah lutut, dibuat dari karet atau kulit.

Selain menggunakan sepatu bot hingga ke kamar tidur mereka, Junaidi sebelumnya juga mengambil sebilah besi dari dalam sepatu kerjanya itu, lalu dihantamkannya ke tengkuk sang istri, sehingga korban tersungkur tak sadarkan diri.

Karena masih terlihat bernapas, Junaidi kemudian menginjak-injak leher dan kepala sang istri, sehingga wanita yang dia nikahi dua tahun lalu itu tewas di kamar tidur mereka.

Ditanya Serambi apakah dalam kasus ini ada pelaku lainnya, Kapolres menyatakan, sejauh ini pihaknya belum menemukan bukti petunjuk tentang keterlibatan pihak lain dalam insiden ini. Tersangka utamanya adalah Junaidi yang bersekongkol dengan Muhammad Daud, adik sepupunya, saat menghabisi korban.

Berdasarkan keterangan tersangka, kata Kapolres, keduanya telah merencanakan pembunuhan Masdiana, karena Junaidi mengaku tak cinta lagi terhadap istrinya itu serta berniat menikah lagi lantaran sudah dua tahun menikah tapi belum dikaruniai anak.

Kapolres Mirwazi juga menambahkan, berdasarkan keterangan saksi dan tersangka, sebelum pembunuhan itu terjadi, antara Masdiana dengan suaminya selama ini dikabarkan sering bertengkar. Hubungan rumah tangga mereka tak lagi harmonis.

Diduga karena ingin mengakhiri perjalanan bahtera rumah tangganya, sehingga Junaidi nekat membunuh sang istri, demi memuluskan niatnya untuk kawin lagi. Belum diketahui siapa wanita yang akan dia nikahi itu.

Kapolres menambahkan, pada masa penyelidikan kasus itu ada hal yang membuat polisi makin curiga terhadap Junaidi sejak istrinya meninggal tak wajar Kamis (15/6) lalu. Kamis kemarin sebetulnya merupakan hari ketujuh Masdiana meninggal. Tapi dalam masa berkabung itu tersangka tak pernah menggelar kenduri ataupun doa bersama untuk arwah istrinya.

Polisi terus mengawasi gerak-gerik Junaidi. Bahkan sebelum ia ditangkap, polisi sempat berinisiatif menggelar acara kenduri di rumah korban dengan harapan arwah Masdiana tenang di alam kubur. Tapi doa bersama dan kenduri itu bukan atas inisiatif Junaidi.

Yang lebih mengherankan lagi, kata Kapolres, sejak kasus pembunuhan itu terjadi hingga menjalani pemeriksaan di Mapolres Nagan Raya, Junaidi sama sekali tak menyesal telah melakukan pembunuhan.

Pelaku terlihat santai dan bersikap seolah-olah tak berdosa dan korban seakan bukanlah istrinya. Malah pascaperistiwa itu, Junaidi terlihat santai saja. Bukan seperti orang yang gundah, sedih, atau menyesal karena telah menghabisi nyawa sang istri dengan tangannya sendiri.

Sedangkan tersangka Muhammad Daud di hadapan penyidik mengakui bahwa ia bersedia membantu Junaidi menghabisi istrinya karena ia tak punya pekerjaan dan butuh uang sesuai tawaran Junaidi.

Atas jasanya itu, Muhammad Daud dihadiahi Junaidi dua unit handphone (hp) milik korban, lalu ia gadaikan pada seorang temannya di Meulaboh, Aceh Barat, senilai Rp 150.000.

Tapi gara-gara inilah polisi akhirnya berhasil mengungkap siapa pelaku. Setelah titik koordinat hp itu diketahui polisi, orang yang menampung hp itu pun didatangi. Ia kemudian “nyanyi” bahwa hp tersebut ia peroleh dari Muhammad Daud. Ketika Daud diinterogasi, akhirnya dia beberkan bahwa Junaidilah yang melibatkannya untuk membunuh Masdiana. Akhirnya, kedua tersangka diringkus polisi.

“Kita masih menyelidiki dan melengkapi barang bukti. Kita berharap ada fakta lainnya yang terungkap di balik peristiwa ini,” ujar Kapolres Nagan Raya, AKBP Mirwazi. (Serambinews)
 

Health

Video

Facebook

Religion


Tokoh

Tokoh

Translate

Tasauf

Google+ Badge