AMP News :
Featured
Articles
Powered by Blogger.

Breaking News

Opini

Promo
Tahunan
×

Bupati Bireuen Tertidur Saat Upacara Penyerahan Remisi Berlangsung

AMP - Penyerahan remisi oleh Bupati Bireuen kepada nara pidana di cabang Rumah Tahanan (Rutan) Kabupaten Bireuen, di kawal ketat oleh pihak keamanan.

Tampak pihak keamanan yang melakukan pengawalan Bupati Bireuen itu menggunakan senjata laras panjang pada upacara penyerahan remisi di hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72, Kamis: 17/08/2017

Namun, Bupati Bireuen H Saifannur, S.Sos merasa nyaman sehingga ia sempat tertidur saat upacara penyerahan remisi sedang berlangsung, meskipun demikian acara tersebut terus di laksanakan.

Sofyan, Kalapas cabang Rutan Bireuen mengatakan bahwa jumlah napi yang memperoleh remisi umum hari ini mencapai 199 orang dengan masa pengurangan hukuman antara 1 sampai 5 bulan", ujarnya

Ia menambahkan bahwa pada hari ini seharusnya ada dua orang napi bebas murni, namun karena tidak bisa membayar subsider sebesar satu milyar rupiah, maka mereka harus menjalani kurungan enam bulan lagi ,jika besok subsidernya dibayar maka napi tersebut langsung bisa di bebaskan" katanya

Pada upacara tersebut turut hadir Bupati Bireuen H.Saifannur, S.Sos, Wakil Bupati Bireuen Dr. H Muzakkar Agani, SH, M.Si, Ketua DPRK Bireuen Ridwan Muhammad.

Selain itu, tampak hadir Kapolres Bireuen AKBP Riza Yulianto, Kasdim 0111 Bireuen Mayor Sujatmiko, beserta sejumlah Kepala Dinas pemkab Bireuen.| Radaraceh

Dugaan Pemotongan Gaji Guru, Kepala UPTD di Aceh Utara Diperiksa Jaksa

Ilustrasi
AMP - Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Utara memeriksa kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Dinas Pendidikan, Kecamatan Matangkuli, Jamaluddin Puteh dan Kepala SMPN 1 Matangkuli Kamaruddin. Pemeriksaan keduanya terkait dugaan pemotongan gaji 13 guru.

“Kita mau klarifikasi soal dugaan pemotongan gaji ke 13 guru yang heboh di media akhir-akhir ini. Kita akan dengarkan satu per satu keterangan mereka,” kata Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus, Kejari Aceh Utara, Muhammad Riza, kepada AJNN, Kamis (17/8).

Riza menambahkan, pihaknya juga akan memanggil kepala UPTD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di kecamatan lainnya.

“Ini masih kita mintai keterangan pihak yang bersangkutan. Nantinya kita mau lihat, benar atau tidak pemotongan itu,” ujar Riza.

Sementara Bendahara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kabupaten Aceh Utara, Rusmin menyebutkan pemeriksaan internal telah dilakukan terkait dugaan pemotongan dana itu.

“Hasil pemeriksaan internal, tidak ada pemotongan. Seperti di Matang Kuli itu kita sudah lihat bukti transfer gaji dari UPTD ke sekolah. Angkanya sesuai," sebutnya.

Untuk UPTD Nisam, sambung Rusmin, memang terjadi kekeurangan transfer gaji guru, dari yang seharusnya Rp 1,4 miliar lebih hanya ditranfers Rp 1,2 miliar.

“Kekurangan dana 200 juta lagi itu dibayar dalam bentuk tunai ke kepala sekolah, dan ada bukti penerimaannya,” pungkas Rusmin.

Sebelumnya diberitakan, sejumlah guru di Kecamatan Nisam Antara, dan Kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara mengeluhkan pemotongan gaji ke 13 dengan alasan yang tidak jelas. Angkanya bervariasi mulai dari Rp 35.000 hingga Rp 600.000 per guru.[AJNN]

Panjat Pinang, Warisan Belanda Yang Mengakar di Indonesia

AMP - Sudah menjadi kebiasaan, hampir setiap perayaan hari kemerdekaan Indonesia, lomba panjat pinang dan balap karung adalah lomba yg seolah wajib diadakan. Tua muda selalu antusias berpartisipasi dalam lomba yang memang sangat seru ini. Namun tahukah Anda? dibalik kemeriahan suasana panjat pinang dan balap karung tersimpan kisah suram tentang asal usul permainan rakyat ini.

Bila kita mengadakan lomba panjat pinang dan balap karung setiap 17 Agustus, dulu sebelum Indonesia merdeka ternyata lomba ini telah diadakan, namun beda tanggal. Pemerintah Belanda menggelarnya setiap tanggal  31 Agustus untuk memperingati ulang tahun Ratu Wilhemina.

Asep Kambali, pendiri Komunitas Historia Indonesia, melakukan riset tentang asal mula panjat pinang digelar. Dari hasil riset pada koleksi museum Tropen, Belanda, ia mendapati ternyata panjat pinang sebenarnya adalah adaptasi dari permainan serupa asal Belanda yang bernama "De Klimmast" yang berarti panjang tiang. Mereka mengadakan lomba panjat tiang sebagai hiburan pada perayaan-perayaan hari besar disana.

Nah, oleh penjajah Belanda permainan ini diperkenalkan di Tanah air. Namun berbeda dengan di negara asalnya, selama permainan ini di gelar tak satupun orang Belanda yang mau ikut bermain. Mereka hanya tertawa-tawa melihat orang pribumi saling pijak berusaha merebut sekarung makanan dan pakaian yang digantung di pucuk pinang.

Disinilah pribumi dilecehkan, orang-orang pribumi yang bersusah payah jatuh bangun memanjat tiang licin ini menjadi hiburan tersendiri bagi orang Belanda. Mereka memandang pribumi begitu lucu karena mau berebut untuk sesuatu yang bagi mereka tak berharga.

Begitu juga dengan lomba balap karung. Bukti sejarah juga menunjukkan permainan ini telah ada sejak jaman penjajahan. Konon orang-orang pribumi begitu sulit hidupnya hingga mereka hanya mampu berpakaian dengan karung goni. Karena kesal, mereka mneginjak-injak karung dan entah bagaimana akhirnya kekesalan mereka itu berubah menjadi sebuah permainan adu lari memakai karung.

Beberapa pemerhati sejarah telah mengusulkan permainan ini dihapuskan dari perayaan hari kemerdekaan. Mereka menganggap permainan tersebut merupakan peninggalan Belanda yang melecehkan pribumi sehingga tidak pantas dilestarikan. Namun hal itu tak mudah dilakukan karena panjat pinang telah mengakar dalam budaya Indonesia. (.cetroasia.com)

Selamat Datang di Marawi: 'Kota Hantu' Penuh Peluru

AMP - Pemberitaan yang minim soal krisis Marawi oleh media di Indonesia bukan berarti di sana kini tidak terjadi apa-apa. Sampai tulisan ini diturunkan, perang masih berkecamuk. Pasukan Filipina masih kepayahan menghadapi ISIS. Kematian tetap menghantui prajurit Filipina dan warga sipil. Sampai hari Minggu lalu (6/8), total prajurit yang tewas mencapai 122 orang dan warga sipil 45 orang. Ke depan angka ini sangat mungkin bertambah.

Marawi masih jadi kota mati. Rumah-rumah masih kosong lantaran penduduk setempat—biasa disebut Maranao—mengungsi. Tidak ada aktivitas apa pun selain baku tembak. Tentara atau polisi berlalu-lalang menenteng senjata. Marawi masih muram dan mencekam.

"ISIS belum ditaklukkan. Doakan agar perang ini segera berakhir," kata Ismael Albinner, seorang serdadu yang menemani saya ke garis depan lewat pesan pendek sesaat sebelum saya pulang ke Jakarta, pekan lalu.

Saya sempat mengunjungi Marawi pada 22 Juli lalu. Kedatangan saya tepat 60 hari pendudukan ISIS di Marawi. ISIS memulai keonaran ini pada 23 Mei lalu. Evakuasi besar-besaran warga sipil berselang sesudah ISIS berkuasa di Marawi. Hampir 200-an ribu penduduknya kini terluntang-lantung.

Ini adalah ironis. Padahal suasana ibu kota Provinsi Lanao del Sur ini adalah kota yang indah, dikelilingi perbukitan dan udara sejuk, dengan ketinggian di atas 700 mdpl, terletak di tepian Danau Lanao—danau terbesar kedua di Filipina.

Namun kedamaian dan keindahan itu kini berganti jadi kengerian. Marawi lebih mirip seperti kota hantu. Sampah berserakan di mana-mana. Banyak pintu dan jendela beberapa toko dan rumah terbuka. Pecahan kaca berserakan.

Dari luar, kita bisa melihat tak ada lagi barang berharga. Terkadang alang-alang tumbuh subur di dalam puluhan rumah yang tak berpenghuni itu. Di luar, jalanan lengang. Sesekali hanya melintas truk militer atau kendaraan lapis baja.

Sejak perang berkecamuk, tidak sembarang orang bisa masuk ke Marawi. Mereka yang ingin masuk ke dalam kota mesti mendapatkan surat izin car pass dari pihak militer.

Pusat komando militer operasi gabungan terletak di Perkantoran Gubernur Lanao del Sur, Matampay, di utara kota. Ini lokasi teraman di Marawi—biasa disebut Zona Hijau (Green Zone).

Gerbang selalu tertutup dan dijaga secara bergilir oleh polisi atau tentara. Terlebih di samping perkantoran ini terdapat barak prajurit Filipina.

Tetapi, jangan samakan Green Zone di Marawi seperti di Bagdad, ibu kota Irak. Pos penjagaan di sini tak dilindungi karung-karung pasir. Tidak ada pula beton anti-bom. Pagar di sekeliling kompleks berbentuk teralis. Orang dari luar mudah menembaki kami yang ada di dalam. Nasib apes ini salah satunya dialami Adam Harvey, koresponden ABC, stasiun televisi berita dari Australia. Sebutir peluru kaliber 5.56 dari senjata M-16 nyasar dan menancap ke lehernya.

Kompleks ini tak sepenuhnya aman. Jika ditarik garis lurus, jarak antara Gubernuran dan wilayah ISIS di seberang Sungai Agus, tepatnya Raya Madaya, hanya 1,6-an kilometer.

Itulah sebabnya mayoritas wartawan di Marawi tak pernah melepaskan atribut rompi antipeluru, plus berdiri lama-lama di halaman depan kantor seperti yang dilakukan Harvey.

"Di sini Anda bisa mati gara-gara apes terkena peluru nyasar, dan itu sungguh tidak lucu," kata Divina, jurnalis lokal yang menemani saya di Marawi.

Saya tiba di Kompleks Green Zone sekitar pukul 09.00. Setelah berbincang dengan juru bicara Pasukan Tempur Gabungan Letkol Jo-ar Herrera, saya dipersilakan pergi ke garis depan di Jembatan Mapandi bersama rombongan wartawan lain. Ada dua wartawan asing lain yang diizinkan ikut selain saya: keduanya wartawan Jepang.

Dari kantor gubernur, kami diarahkan menuju ke barak marinir sementara di Mapandi Memorial Center, di Jalan Sultan Omar Dianalan, Lilod Saduc. Jaraknya sekitar 2 kilometer. Herrera menugaskan dua sersan bersenjata lengkap untuk ikut mengawal dan mengantar kami ke lokasi karena kami tertinggal rombongan.

Usai keluar dari kantor gubernur, ketika si sersan mengarahkan mobil berbelok ke arah selatan, saya mulai sedikit was-was. Panduan dari aplikasi Google Maps menunjukkan, untuk menuju Lilod Saduc, kami bisa memutar lewat utara melalui Jalan Campo Nao, Jalan Bacol, dan tiba di Jalan Sultan Omar Dianalan.

Namun, si sersan pilih jalan lain. Ia mengarahkan mobil ke selatan menuju perempatan Sarimanok, lalu berbelok melewati Rumah Sakit Amai Pakpak, dan berhenti sejenak di depan Taman Lanao. Jarak dari lokasi ini ke medan pertempuran hanya 700 meter. Suara rentetan senapan mesin jelas sekali terdengar. Dan benar saja: si sersan ternyata kebingungan.

Hampir saja ia mengarahkan mobil ke Jalan Insinyur Sacar Basman. Jika saja mobil terus melaju, kami akan langsung tembus ke Jembatan Bayabao—salah satu jembatan vital lain yang jadi rebutan antara kombatan ISIS dan pasukan Filipina. Untungnya seorang tentara keluar dari sebuah rumah dan memperingatkan kami serta mengarahkan ke rute yang benar.

"Saya baru dua hari di sini," kata si sersan dengan enteng sambil terkekeh.

Jalan Sultan Omar Dianalan membentang dari utara ke selatan Kota Marawi. Melewati empat desa: Lilod Saduc, Saduc, Lilod Madaya, dan Mocado Colony, serta melintasi Jembatan Mapandi. Lokasi jembatan ini dari barak marinir hanya 400 meter. Tak ayal baku tembak lebih terdengar keras di sini.

Awalnya, Komandan Batalion Tim Pendarat Marinir 7, Letkol Bill Pasla, menjanjikan para wartawan yang berjumlah 15 orang diberi akses melewati Jembatan Mapandi, masuk ke area ISIS di seberang Sungai Agus, dan menyaksikan pertempuran utama dari jarak dekat.

Agar bisa ke sana tentu mesti menaiki kendaraan lapis baja. Bagaimanapun, masih banyak milisi ISIS berjaga di sekitar area jembatan. Mereka bersembunyi di reruntuhan gedung, menembaki pasukan yang hendak menyeberang dan masuk ke arah mereka.

Itu adalah rute yang mengerikan. Selanjutnya
 

Health

Video

Facebook

Religion


Tokoh

Tokoh

Translate

Tasauf

Google+ Badge